Rabu, 23 Juli 2008

praktikum respirasi


MeguKur TingKat ResPirASi ehhh Volume REspirasii
Kita sadari atau tidak, setiap hari bahkan sepanjang waktu, tak peduli apapun yang kita lakukan kita selalu menghirup udara dan menghembuskannya kembali melalui hidung kita. Aktifitas tersebut kita lakukan secara terus-menerus tanpa henti. Aktifitas tersebutlah yang kita sebut sebagai bernafas.
Tak peduli tumbuhan atau hewan, semuanya pasti bernafas. Bernafas merupakan sebuah aktifitas yang dilakukan organisme setiap hari. Aktivitas ini merupakan hal yang sangat urgen bagi kelangsungan hidup suatu organisme. Tanpa bernafas, organisme akan kesulitan bahkan tak bisa melaksanakan berbagai fungsi fisiologis dalam tubuh.
Proses bernafas jika kita lihat secara sepintasmerupakan suatu proses yang sangat simple karena hanya dilakukan dalam waktu yang sekejap. Akan tetapi apabila ditelusuriu lebih jauh, ternyata bernafas bukanlah hal yang sesederhana kita kira. Banyak mekanisme-mekanisme rumit yang mengiringinya.
Seperti kta ketahui bersama, satu nafas adalah satu kali tarikan udara dan satu kali hembusan. pada proses pernafasa ini terjadi transfer dan pertukaran udara antara paru-paru dengan atmosfer. Sewaktu bernafas, kita menghirup udara dari atmosfer kemudian menghembuskan Carbon dioxide dan uap air. Proses pertukaran tersebut tebtu saja melibatkan reaksi-reaksi kimia yang kompleks di dalam tubuh.
Agar dapat memahami proses pernafasan, maka diperlukan sebuah kegiatan yang dapat mewadahi mahasiswa serta memberikan informasi yang lebih akurat mengenai pernafasan dan mekanisme-mekanisme yang mengiringinya.
Berdasar uraian di atas, maka dilaksanakanlah praktikum ini. dalam praktikum ini, mahasiswa akan mendfapatkan kesempatan untuk mengamati proses pernafasan, gejala-gejala yang terjadi serta bebebrapa mekanisme yang mengiringinya. Dengan demikian, mahasiswa biosa mendapat tambahan pengetahuan yang daoat menunjang pengetahuan yang telah didapatkan melalui kegiatan perkuliahan.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan kegiatan praktikum ini adalah:
1. Kegiatan I : Untuk menghitung kecepatan pernapasan.
2. Kegiatan II : Untuk mengamati proses titrasi.
3. Kegiatan III : Untuk menghitung volume udara pernapasan dengan menggunakan spirometer
C. Manfaat praktikum
Manfaat kegiatan praktikum ini adalah:
1. Mahasiswa mampu membedakan kecepatan bernapas pada keadaan normal dan pada keadaan setelah beraktivitas
2. Mahasiswa mampu membedakan kecepatan bernapas yang digunakan setiap individu melalui respirometer.

TINJAUAN PUSTAKA
Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tresimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untuk kegiatan kehidupan, seperti sintesis, gerak dan pertumbuhan (Anonim, 2006).
Organisme hidup selalu mengikat oksigen dan melepaskan karbondioksida. Oksigen dipergunakan oleh organisme dalam proses oksidasi dan selanjutnya membentuk racun bagi organisme itu sendiri. Bagi semua hewan yang telah berkembang dan bertumbuh, memerlukan oksigen untuk mempertahankan metabolismenya. Dimana oksigen dari udara yang dihirup masuk akan mengelurakan CO2 dari hasil metabolisme sel-sel jaringan tubuh (Adnan, 2004).
Hewan menggunakan oksigen dan menghasilkan carbon dioksida selama proses respirasi sel. Organisme yang diameternya lebih kecil dari 0,5mm dapat menggunakan difusi saja untuk pertukaran gas. Seiring bertambah besarnya organisme, jarak difusi meningkat dan rasio daerah permukaan terhadap volume mengecil. Sistem sirkulasi dan respirasi pada hewan yang lebih besar berkembang untuk mempermudah pertukaran gas (Bresnick, 2003).
Pertukaran gas atau bernafas terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara udara di luar dan udara di dalam paru-paru. Perbedaan ini timbul karena terjadinya kontraksi otot pernafasan yang diatur oleh pusat nafas di medulla oblongata, yang dimaksud dengan satu kali bernafas adalah satu kali menghirup dan satu kali melepaskan dengan jumlah oksogen yang terhirup rata-rata 500cc (Adnan, 2008).
Pada hewan vertebrata daratan, organ untuk pertukaran gas adalah paru-paru. Oksigen dalam udara ini larut dalam laposan cairan pada permukanan sel-sel epitel dari paru-paru, kemudian berdifusi kedalam pembuluh-pembuluh darah halus ialah kapiler darah. Di dalam darah sebagian besar oksigen masuk ke dalam ribuan sel-sel darah merah yang berbentuk lonjong. Sel-sel darah merah yang mengalir ini mengandung pigmen merah hemoglobin. Dalam keadaan seperti yang tredapat dalam paru-paru, hemoglobin secara kimiawi bersenyawa dengan oksigen. Karbondioksida yang dihasilkan oleh respirasi sel di jaringan masuk ke darah dan dibawa ke paru-paru dan kulit untuk dilepaskan ke atmosfer (Jasin, 1992).
Menurut Wulangi (1993), Respirasi dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu:
1. Respirasi luar merupakan proses pertukaran gas (O2 dan CO2) antara atmosfer dengan paru-paru pada hewan yang hidup di darat atau pertukaran antara medium air dengan insang pada hewan yang hidup di air.
2. Pengangkutan gas O2 dan CO2.
Pengangkutan gas ini meliputi pengangkutan O2 dari kapiler paru-paru.
3. Respirasi dalam
Respirasi dalam (respirasi interna) merupakan reaksi oksidasi reduksi dimana O2 dikomsumsi dan CO2 diproduksi.Oksigen sangat tidak larut dalam air, maka sangat sedikit oksigen yang diangkut dalam darah dalam bentuk O2 terlarut. Pada sebagian besar hewanoksigen dibawah oleh pigmen respirasi dalam darah. Pigmen tersebut adalah protein yang warnanya dihasilkan oleh atom logam yang terdapat dalam molekul tersebut. Salah satu diantaranya yang disebut hemosianin, merupakan tembaga sebagai komponen pengikat oksigennya (Campbell, 1999).
Peredaran oksigen dan carbondioksida dalam tubuh yaitu CO2 yang dilepaskan sel memasuki aliran darah. Khususnya ke vena, lalu dibawa ke jantung. Pada setiap detak jantung, gas ini dibawa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Pertukaran gas terjadi di alveolus. CO2 dilepaskan ke alveoli dan O2 dari alveolus dilepaskan ke kapiler pulmonal. Kemudian diikat oleh hemoglobin sel darah merah. Darah yang mengandung oksigen dari paru-paru diterima oleh vena pulmonal dan dikirim kembali ke jantung. Sesampai di jantung darah dipompakan ke aorta dan dialirkan ke seluruh tubuh untuk menghantarkan oksigen yang terdapat dalam hemoglobin (Irianto, 2004).
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang diperlukan pun menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kali lipat. Ketika oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara. Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya 40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida/ CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar dari jaringan menuju paruparu dengan bantuan darah (Bresnick, 2003).
Oksigen dalam udara larut dalam lapisan cairan pada permukaan sel-sel epitel dan paru-paru, kemudian berdifusi kedalam pembuluh-pembuluh darah halus ialah kapiler darah. Di dalam darah, sebagian besar oksigen masuk ke dalam ribuan sel-sel darah merah yang berbentuk lonjong. Sel-sel yang mengaklir ini mengandung puigmen merah hemoglobin. Dalam keadaan seperti yang terdapat dalam paru-paru, hemoglobin secara kimiawi bersenyawa dengan oksigen (Kimball, 1994)


METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/ tanggal : Jumat, 16 Mei 2008
Waktu : Pukul 13.10 s.d 14.50 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi FMIPA UNM lantai III Timur
Makassar.
B. Alat dan Bahan
1. Kegiatan I (Kecepatan Pernapasan)
Alat : Stopwatch
Bahan : Probandus

2. Kegiatan II (Titrasi)
Alat: - Biuret - Labu Erlenmeyer
- Statif - Tutup labu Erlenmeyer
- Pipa kaca - Pipet tetes
Bahan: - NaOH 0,1 M
- Phenoftalin
- Kertas kwarto
3. Kegiatan III (Kecepatan Pernapasan dengan Menggunakan Spirometer)
Alat: - Spirometer - Ember
- Pipa tiup
Bahan: - Air - Alkohol
- Kapas

C. Prosedur Kerja
Kegiatan I
a. Probandus melakukan pernapasan biasa kemudian menghitung jumlah pernapasan normal yang dilakukan setiap 1 menit selama 5 menit.
b. Probandus melakukan aktivitas (berlari) kemudian menghitung jumlah pernapasan yang dilakukan setiap 1 menit selama 5 menit.
c. Mencatat hasil pengamatan.
3. Kegiatan II
a. Mengisi buret dengan larutan 20 ml aquades + NaOH 10 tetes + penoftalin 5 tetes kemudian mencatat batas volume larutan.
b. Meletakkan labu Erlenmeyer yang berisi larutan tepat dibawah ujung bawah buret dengan memberi alas dari kertas kwarto.
c. Salah satu probandus berlari dan kemudian meniup labu Erlenmeyer dengan menggunakan sedotan, bandingkan perubahan yang terjadi antara probandus yang telah berlari dengan yang dalam keadaan santai.
d. Meneteskan larutan di dalam buret ke dalam labu setetes demi setetes dengan perlahan-lahan, pada setiap tetesan labu digoyang-goyang.
e. Melakukan terus titrasi dan menggoyangkan terus labu sambil melakukan pengamatan secara cermat mengenai perubahan warna yang terjadi.
f. Menghentikan titrasi ketika terjadi perubahan warna yang menandakan titik ekuivalen sudah terlewati kemudian mencatat angka batas volume pada buret.
g. Menghitung volume zat pentiter (NaOH) yang terpakai sehingga tercapai titik ekuivalensi.
2. Kegiatan III
a. Menyiapkan spirometer yang telah berisi air kemudian menormalkan skalanya.
b. Menghitung frekuensi pernapasan( volume udara pernapasan):
· Inspirasi normal dan ekspirasi normal.
· Inspirasi kuat dan ekspirasi normal.
· Inspirasi kuat dan ekspirasi normal..
· Inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi normal.
· Inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi sekuat-kuatnya.
c. Mengambil data pada setiap praktikan dan mencatat hasil pengamatan


HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Kegiatan I (Kecepatan Pernapasan)
No. Aktivitas Jumlah frekuensi pernafasan
1 Santai : 19
2 Berlari : 34

2. Kegiatan III (Titrasi)
Aktivitas Warna larutan sebelum ditiup Warna larutan setelah ditiup Volume awal (ml) Volume akhir(ml) Volume titrasi(ml)
Santai Pink Putih 9,2 10,0 0,8
Lari Ungu muda bening 10,0 10,8 0,8

Data I ( normal/santai) = 0,5 ml NaOH
= 0,5 ml NaOH X 5.10-5 mol CO2
= 2,5.10-5 M

Data II (aktivitas/setelah lari) = 1,4 ml NaOH
= 1,4 ml NaOH X 5.10-5 mol CO2
= 6,0.10-5 M

3. Kegiatan II (Kecepatan Pernapasan dengan Menggunakan Spirometer)

Probandus VT VCI VCE KI KE
Saphensia 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Nurhidayah 1,2 1,1 1,5 1,1 1,5
Irny Novriany 0,5 0,5 1,0 1,0 1,0
Fitriani 1,5 2,0 2,0 2,0 2,5
Firman 1,5 1,5 1,5 0,5 1,0
Keterangan:
1. VT ( Volume tidal ) : Inspirasi normal dan ekspirasi normal.
2. VCI (Volume cadangan inspirasi) : Inspirasi kuat dan ekspirasi normal.
3. VCE (Volume cadangan ekspirasi) : Inspirasi normal dan ekspirasi kuat.
4. KI ( Kapasitas inspirasi) : Inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi normal.
5. KV (Kapasitas vital) : Inspirasi super kuat dan ekspirasi sekuat-kuatnya.

B. Pembahasan
1. Kegiatan I (Kecepatan Pernapasan)
Pada pengamatan ini kita membandingkan laju respirasi pada keadaan santai dengan laju respirasi pada keadaan setelah melakukan aktivitas yang lebih berat (berlari).
Berdasarkan data hasil pengamatan, diketahui bahwa jumlah frekuensi pernafasan probandus pada keadaan santai adalah 19 kali per satuan waktu, sedangkan frekwensi pernafasan probandus pada keadaan setelah melakkan aktifitas yang lebih berat adalah 34 kali.
Dengan demikian, dapat ita ketahui bahwa laju pernafasan pada keadaan telah melakukan aktifitas berat lebih cepat dibandingkan laju respirasi pada keadaan santai. Keadaan seperti ini disebabkan oleh probandus memerlukan lebih namyak oksigen untuk mengganti sejumlah besar oksigen yang digunakan pada waktu berlari. Hal ini dimaksudkan untuk menormalkan kembali laju metbolisme dalam tubuh.

2. Kegiatan II (Titrasi)
Pada percobaan ini kita akan mengamati jumlah CO2 yang dihasilkan probandus pada keadaan normal (santai) dengan pada keadaan setelah melakukan aktifitas (berlari).
Percobaan dilakukan dengan memasukkan larutan HCl, aquades, dan indiator penolfthalein ke dalam labu Erlenmeyer. Setelah itu probandus menghembuskan nafas (meniup) melalui sedotan limun ke dalam larutan dalam labu tadi. Larutan dalam labu akan berubah warna menjadi putih setelah ditiup. Hal ini menunjukkan bahwa pernafasan manusia memang menghasilkan CO2 sebagai zat buangan, karena perubahan warna larutan menjadi putih disebabkan oleh larutan yang mengikat CO2 hasil pernafasan.
Proses selanjutnya yang akan dilakukan setelah larutan berubah warna menjadi putih adalah titrasi, yaitu meneteskan NaOH ke dalam larutan HCl yang berubah warna tadi. Larutan HCl akan berubah warna seperti keadaan sebelum ditiup setelah diteteskan NaOH pada volume tertentu. Semakin banyak NaOH yang dibutuhkan untuk menetrakan kembali larutan HCl yang berubah warna mengindikaskan semakin banyka pula CO2 yang dihasilkan dalam pernafasan.
Sesuai data hasil pengamatanyang diperoleh, maka dilakukan analisis data sebagai berikut:
Data I ( normal/santai) = 0,5 ml NaOH
= 0,5 ml NaOH X 5.10-5 mol CO2
= 2,5.10-5 M
Data II (aktivitas/setelah lari) = 1,4 ml NaOH
= 1,4 ml NaOH X 5.10-5 mol CO2
= 6,0.10-5 M
Analisis data di atas menunjukkan bahwa larutan dalam labu yang ditiup prabandus setelah melakkan ektifitas (berlari) membutuhkan lebih banyak NaOH untuk menetralkannya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa CO2 yang diproduksi probandus setelah berlari lebih banyak jika dibandingkan dengan CO2 yanb diproduksi pada keadaan normal.

3. Kegiatan III (Kecepatan Pernapasan dengan Menggunakan Spirometer)

Pada kegiatan ini akan dilihat volume udara pernafasan yang melibatkan semua anggota kelompok sebagai probandusnya. Volume udara pernafasan yang dimaksud mencakup:
1. Volume tidal, yaitu volume udara yang masuk atai keluar dari hidung sewaktu bernapas pada keadaan istirahat, sebanyak 500 cc.
2. Volume cadangan inspirasi (komplemen), yaitu volume udara inspirasi yang masih dihirup setelah inspirasi normal (tidal), kira-kira 3000 cc.
3. Volume cadangan ekspirasi (suplemen), yaitu volume udara ekspirasi yang masih dapat dikeluarkan setelah ekspirasi normal (tidal), kira-kira 1250 cc.
4. Kapasitas vital, yaitu volume udara maksimal yang dapat dikeluarkan dalam sekali ekspirasi setelah inspirasi maksimal, volumenya 4750 cc.
5. Kapasitas inspirasi/Volume residu, walaupun dilakukan ekspirasi semaksimal mungkin tetapi terdapat sisa udara dalam paru-paru yang tidak dapat dikeluarkan dengan ekspirasi biasa, kisaran kapasitasnya tersebut hanya sekitar 1200 cc.
Sesuai data hasil pengamatan yang diperoleh, maka dikethui bahwa volume udara pernafasan setiap probandus berbeda-beda, tergantung dari keadaan individu masing-masing. Perbedaan volume udara pernafasan masing-masing probandus dapat disebabkan oleh keadaan tubuh probandus yang berbeda-beda. Ada yang dalam keadaan fit, ada juga yang dalam keadaan kurang fit akibat melakukan aktifitas tertentu (berlari).


KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Laju pernafasan pada keadaan telah melakukan aktifitas (berlari) lebih cepat dibandiungkan dengan laju pernafasan pada keadaan normal.
2. volume CO2 yang dihasilkan probandus pada keadaan telah melakukan aktifitas (berlari) lebih besar dibandingkan Volume CO2 yang dihasikan pada keadaan normal.
3. Volume udara pernafasan tiap individu berbeda-beda.





Read More......

Selasa, 22 Juli 2008

Darah merupakan cairan tubuh yang terdapat dalam jantung dan pembuluh darah. Beberapa cairan tubuh yang lain adalah cairan jaringan, cairan limf, sinovial, aqueos humor, edolimf, dan perilimf. Darah yang terdapat di dalam vena warnanya merah tua. Berat jenis darah bervariasi dari 1.054 – 1.060, sedangkan berat jenis plasma bervariasi dari 1.024 – 1.028. Darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel-sel darah merah (butir-butir darah) dan cairan darah (plasma darah). Sel-sel darah merupakan bagian darah yang mempunyai bentuk. Ada 3 macam sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan keping darah (trombosit).
Darah merupakan cairan tubuh yang terdapat dalam jantung dan pembuluh darah. Beberapa cairan tubuh yang lain adalah (1) cairan jaringan, merupakan cairan tubuh yang terdapat di ruang antar sel; (2) cairan limf, merupakan cairan tubuh yang terdapat dalam pembuluh limfa dan organ limfatikus. Organ limfatikus meliputi nodus limfatikus, tonsil, timus dan limpa; (3) cairan serebrospinal, merupakan cairan tubuh yang terdapat di ruang-ruang otak (ventrikulus otak) dan di kanal sentral dari sum-sum tulang belakang; (4) sinovial, merupakan cairan tubuh yang terdapat di ruang-ruang antara persendian; (5) aqueous humor, merupakan cairan tubuh yang terdapat di dalam bola mata; (6) endolimfa, cairan tubuh yang terdapat di telinga bagian dalam mengisi membran labirin; (7) perilimf, merupakan cairan tubuh yang juga terdapat di telinga bagian dalam yaitu di dalam tulang

Add to fwicki



Read More......

sebuah puisi untuk yang telah pergi


Mawarku hilang

malam ini
malam ke 7 untuk ke sekian kalinya kita
melepaskan tali kita
dan aku menerawang jauh melintasi segala masalah
tentang aku dan engkau
sekilas
kuterawang langit malam
terbayang wajahmu di antara bintang-

apakah pelukmu padanya
sehangat pelukmu padaku
adakah kisah-kisahmu
kebiasaanku

mawarku………
semua memang sudah terlanjur
kutak bisa seperti yang kau pinta
maafkan aku yang takkan pernah menjadi yang terbaik untukmu

Add to Attensa


Read More......

Senin, 21 Juli 2008

Proses dalam ginjal

Serangkaian proses yang terjadi pada ginjal kurang lebih......


Di dalam ginjal terjadi rangkaian proses filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.
1. Penyaringan (filtrasi)



o Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
o Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya.
2. Penyerapan kembali (Reabsorbsi)

o Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.

o Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.

o Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03`, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.

o Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.

3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin.


Uji Fisik
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada urin dari setiap probandus yang ada. Perlakuan ini merujuk pada pengujian fisik dengan mengamati pH, bau dan warna dari setiap urine yang diujikan. Untuk penentuan pH dari setiap urine, pH yang ada berkisar antara 5 – 7. pH 5 ada 7, pH 6 ada 22 dan pH 7 ada 2. Untuk bau dari setiap urine, terdapat 4 macam diantaranya pesing, tidak berbau, menyengat dan berbau. Untuk bau pesing ada 9, tidak berbau ada 18, menyengat 1 dan berbau ada 2. Sedangkan untuk warna dari setiap urine, juga terdapat 4 macam yaitu kuning gading, kuning berbuih, bening dan kuning berbusa. Kuning gading adalah warna yang paling dominan yaitu 26, kuning berbuih ada 3, bening 1 dan kuning berbusa juga 1. Warna kuning gading mengindikasikan bahwa pigmen yang terkandung dalam urin adalah normal. Kuning berbuih kemungkinan disebabkan oleh naiknya pigmen melanin. Bening dan kuning berbusa menunjukkan bahwa konsentrasi urin tereduksi.
Menurut Adnan (2008), urine normal berwarna kuning atau kuning gading, transparan, pH berkisar 4,6 – 8,0 atau rata-rata 6,0, berat jenis 1,001 – 1,035, bila agak lama berbau seperti amoniak.


Berikut dijelaskan mengenai beberapa warna urie dan kemungkinan penyebabnya. Urine berwarna kemerahan menandakan adanya darah pada urine, yang bisa menjadi indikasi adanya gangguan batu ginjal, atau kanker pada ginjal dan kandung kemih. Namun bisa jadi urine berwarna merah jika mengkonsumsi pencahar atau makan buah bit secara berlebihan. Urine berwarna kecoklatan bisa menandakan adanya darah dalam urine. Tapi urine juga dapat berubah warna coklat jika ada otot yang rusak atau melakukan olahraga terlalu berlebihan. Bisa juga akibat terlalu banyak makan kacang. Urine berwarna kecoklatan juga mengindikasikan adanya porphyria penyakit kelainan pada darah. Urine berwarna kuning tua atau pekat kemungkinan akibat dehidrasi, tapi bisa juga merupakan tahap awal penyakit liver. Urine berwarna kuning terang bisa juga akibat mengkonsumsi vitamin dalam dosis tinggi, terutama riboflavin (vitamin B). Urine berwarna orange mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat membuat urine Anda berwarna orange. Begitu juga bila Anda melakukan diet vegetarian. Selain warna, urin juga mengelurkan bau yang juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Misalnya pada penderita diabetes dan kelaparan bau urinnya cenderung manis dan berbau buah, sementara untuk urin yang terinfeksi bakteri E. coli lebih memproduksi urin dengan bau yang sangat menyengat. Berbeda dengan urin pada tubuh sehat yang cukup steril dan hampir tidak berbau saat keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menghasilkan bau yang khas

Uji Glukosa
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada urin dari setiap probandus yang ada. Perlakuan ini merujuk pada pengujian kimia yaitu uji glukosa dengan mengamati ada tidaknya kandungan gula dalam urine setelah penambahan beberapa tetes fehling A dan fehling B yang kemudian dipanaskan. Setelah dipanaskan dijumpai ada 3 macam warna yaitu biru, biru kehijauan dan kuning. Untuk biru ada 4, untuk biru kehijauan yang merupakan warna yang paling dominan ada 26 dan kuning hanya 1. Setelah dipanaskan, terdapat 5 macam warna yang mengindikasikan kadar gula pada setiap urin yaitu biru, biru kehijauan, kuning kehijauan, coklat kehijauan dan jingga kuning.
Jika urine berwarna biru maka diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine negatif. Tidak adanya gula dalam urine kemungkinan disebabkan oleh proses filtrasi pada badan Malpighi yang berlangsung dengan baik. Dari hasil pengamatan, yang diperoleh hanya ada 1 yang demikian dengan persentase 3,23 %.
Jika urine berwarna biru kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa ada gula dalam urine. Namun konsentrasi gula masih sangat rendah. Dari hasil pengamatan, terdapat 10 dengan persentase 32,26 %.
Jika urine berwarna kuning kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 1 +. Dari hasil pengamatan, terdapat 15 dengan persentase 48,38 %.
Jika urine berwarna coklat kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 2 +. Dari hasil pengamatan, terdapat 4 dengan persentase 12,90 %.
Jika urine berwarna jingga kuning maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 3 +. Dari hasil pengamatan, yang diperoleh hanyalah 1 dengan persentase 3,23 %.
Kadar gula dalam darah disebabkan karena kurangnya hormon insulin. Hormon insulin yang dihasilkan tidak cukup dan tidak dapat bekerja dengan semestinya. Hormon insulin dihasilkan oleh sekelompok sel beta di kelenjar pankreas dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa dalam sel tubuh. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak bisa diserap semua dan tidak mengalami metabolisme dalam sel. Akibatnya, seseorang akan kekurangan energi, sehingga mudah lelah dan berat badan terus turun. Kadar glukosa yang berlebih tersebut dikeluarkan melalui ginjal dan dikeluarkan bersama urine. Gula memiliki sifat menarik air sehingga menyebabkan seseorang banyak mengeluarkan urine dan selalu merasa haus. Gangguan ini berujung pada sebuah penyakit yang sering kita sebut diabetes mellitus

ada yang npunya info lain tentang ginjal??? minta doooong Read More......

Struktur ginjal

from : pelajarindonesia.multiply.com/.../item/4/Ginjal
Struktur Ginjal
Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua zone, yaitu : kortek (luar ) dan Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi pyramid yang juga disebut pyramid medulla hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortex antara pyramid-pyramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak-bercak merah yang kecil (Petichie) yang sebenarnya merupakan kumpulan veskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal corpuscle atau badan malphigi. Kortek ginjal terutama terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus Konvulatus proximalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medulla dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus kolectivus. Tiap-tiap ginjal mempunyai 1-4 juta filtrasi yang fungsional dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron .
ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang mempelajari ginjal dan penyakitnya disebut nefrologi. Berikut dijelaskan mengenai anatomi dasar ginjal dari segi lokasi, struktur dan organisasinya.
Lokasi
Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut atau abdomen. Ginjal ini terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Ginjal bersifat retroperitoneal, yang berarti terletak di belakang peritoneum yang melapisi rongga abdomen. Kedua ginjal terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk hati. Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan dua belas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan.
Struktur detail
Pada orang dewasa, setiap ginjal memiliki ukuran panjang sekitar 11 cm dan ketebalan 5 cm dengan berat sekitar 150 gram. Ginjal memiliki bentuk seperti kacang dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Di tiap ginjal terdapat bukaan yang disebut hilus yang menghubungkan arteri renal, vena renal, dan ureter.
Organisasi
Bagian paling luar dari ginjal disebut korteks, bagian lebih dalam lagi disebut medulla. Bagian paling dalam disebut pelvis. Pada bagian medulla ginjal manusia dapat pula dilihat adanya piramida yang merupakan bukaan saluran pengumpul. Ginjal dibungkus oleh lapisan jaringan ikat longgar yang disebut kapsula.
Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urin.
Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus).
Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman. Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan meninggalkan ginjal lewat arteri eferen.
Di antara darah dalam glomerulus dan ruangan berisi cairan dalam kapsula Bowman terdapat tiga lapisan:
1. Kapiler selapis sel endotelium pada glomerulus
2. Lapisan kaya protein sebagai membran dasar
3. Selapis sel epitel melapisi dinding kapsula bowman (podosit)
Dengan bantuan tekanan, cairan dalan darah didorong keluar dari glomerulus, melewati ketiga lapisan tersebut dan masuk ke dalam ruangan dalam kapsula Bowman dalam bentuk filtrat glomerular.
Filtrat plasma darah tidak mengandung sel darah ataupun molekul protein yang besar. Protein dalam bentuk molekul kecil dapat ditemukan dalam filtrat ini. Darah manusia melewati ginjal sebanyak 350 kali setiap hari dengan laju 1,2 liter per menit, menghasilkan 125 cc filtrat glomerular per menitnya. Laju penyaringan glomerular ini digunakan untuk tes diagnosa fungsi ginjal.
Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula Bowman. Bagian yang mengalirkan filtrat glomerular dari kapsula Bowman disebut tubulus konvulasi proksimal. Bagian selanjutnya adalah lengkung Henle yang bermuara pada tubulus konvulasi distal.
Lengkung Henle diberi nama berdasar penemunya yaitu Friedrich Gustav Jakob Henle di awal tahun 1860-an. Lengkung Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai ion mineral. Sebagian besar air (97.7%) dalam filtrat masuk ke dalam tubulus konvulasi dan tubulus kolektivus melalui osmosis.
Cairan mengalir dari tubulus konvulasi distal ke dalam sistem pengumpul yang terdiri dari:
o Tubulus penghubung
o Tubulus kolektivus kortikal
o Tubulus kolektivus medularis
Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen disebut aparatus juxtaglomerular, mengandung macula densa dan sel juxtaglomerular. Sel juxtaglomerular adalah tempat terjadinya sintesis dan sekresi renin
Cairan menjadi makin kental di sepanjang tubulus dan saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa ke kandung kemih melewati ureter.
Proses Pembentukan Urine



Read More......

Kamis, 17 Juli 2008

Klipping Sebagian isi Laporan Praktikum REproduksi n EmBriOlogi gw (sem III Bio MIPa UNM)

Laporan praktiklum tentang reproduksi n embriologi
SEkaRng Telah Menjadi Perkembangan HEWan
dari pada dipendem …

kan lebih baik dipublikasikan.. bagi siapa yang butuh sedukit informasi praktikum reproduksi dan embriologi neeeeh gw kasihhhh….. kasih daaaaaaaah


kali ini mengenai regenerasi………

Regenerasi merupakan proses yang begitu penting artinya bagi kehidupan makhluk hidup. Tanpa regenerasi maka tubuh organisme tak akan ada yang sempurna.
Dalam tubuh akhluk hidup terdapat kemampuan untuik melakukan regenerasi pada tingkat sel atau jaringan sedangkan pada hewan tertentu mampu melakukan regenerasi pada tingkat organ.
Dalam melakukan regenerasi banyak faktor yang mempengaruhi, salah satu diantaranya yaitu enzimatis dalam tubuh. Semakin baik dan fertile kondisi enzim dalam tubuh makkhluk hidup maka semakin besar pula melakukan proses regenerasi.
Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut, ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya penggantin anggota bagian badan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, misalnya rontoknya rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai poliferasi dan diferensiasi sel-sel lapisan marginal.
Pemanfaatan dunia sains yang berbasis teknologi sangatlah penting artinya dalam pengembangan berbagai peristiwa regenerasi. Hal ini dikarenakan karena kondisi peristiwa regenerasi ini untuk melakukan hal yang terbaik, oleh karena itu pada praktikum ini akan diketahui sejauh mana makhluk hidup melakukan proses regenerasi dengan mengambil contoh padea hewan aquatik yaitu ikan. Dengan mempelajari karakteristik dan ciri lain pada regenerasi ini diharapkan bagi kehidupan manusia.
TINJAUAN PUSTAKA

Kemapuan untuk melakukan regenerasi struktur yang hilang terdapat pada hampir semua makhluk hidup, paling tidak dalam suatu derajat tertentu. Kemampuan regenerasi yang sangat jelas dapat dijumpai pada spons, coelenterata, cacing bahkan banyak diantaranya yang mampu membentuk organisme baru yang berasal dari fragmen-fragmen tubuhnya saja. Pada vertebrata kemampuan meregenerasi struktur-struktur utama tubuh terbatas pada Urodella yang dapat mengganti anggota badan atau ekor yang hilang. Ada juga pada beberapa Icertulia yang dapat meregenerasi bagian ekor yang hilang eperti kecebong (Adnan, 2007: 3 ).
Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut , ternyata terdiri dai berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya anggota bagian badan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, misalnya rontoknya rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai poliferasi dan deferensiasi lebih sel-sel lapisan marginal. Dapat pula berupa berbagai penimbunan sel-sel yang nampak belum mengalami diferensiasi pada luka tressebut disebut blastama yang akan berfoliferiasi dan secara prosesif membentuk bagian yang hilang. Blastama dapat berasal dari sel cadang khusus atau neoblast sel-sel intertisial yang bermigarsi ke tempat asal luka (Sugiono, 1996: 50).
Menurut Sudarwati (1990 : 59 ), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :
1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu maka akan meningkatkan regenerasi.
2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan. Makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi.
3. System saraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel sekitar luka . hal ini dapat dibuktikan dengan radisai seluruh bagian tubuh terkecuali bagian yang terpotong, maka terjadilah regenerasi dan faktor yang menentukan macam organ yang diregenerasi.
Menurut Adnan (2004 : 3), bahwa regenerasi merupakan suatu peristiwa yang terjadi atas beberapa tahap yaitu :
1. Penyembuhan luka.
2. Penyembuhan jaringan .
3. Pembentukan blastoma.
4. Morfologi dan redeferensiasi.
Menurut Yatim (1993 : 25), bahwa proses regenerasi sebagai berikut :
1. Darah mengalir menutupi pernukaan luka lalu membentuk scap yang sifatnya melindungi.
2. Epitel kulit menyebar di permukaan luka di bawah scab sel epitel bergerak secara nuboid. Butuh waktu dua hari agar kulit lengkap menutupi luka.
3. Redeferensiasi sel-sel jaringan di sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent, untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.
4. Pembentukan blastoma, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas luka, scab yang ada mungkin sudah lepas waktu itu.
5. Rediferensiasi sel-sel deferensiasi, serentak dengan poliferasi sel-sel blastoma itu.
Seorang ahli Biologi dari harfard, Mark Keating yang mempelajari bagaimana cara Zebrafish menumbukan tulang belakang, retina dan hati ketika organ terebut rusak, menemukan bahwa enzimlah yang memicu regenerasi organ tersebut. Tantangannya sekarang adalah mengetahui gen apa yang yang memicu enzim ini. Mekanisme yang sama bukan tidak mungkin diaplikasikan pada manusia

Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut, ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibatnya hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya anggota bagian badan sampai pada bagian sampai pada bagian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, misalnya rontoknya rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai proliferasi dan differensiasi lokal sel-sel lapisan marginal. Dapat pula beberapa penimbunan-penimbunan sel-sel yang nampak belum berdifferensiasi dan secara prosesif membentuk bagian yang hilang (Sugiono, 1996: 149).
Dalam membandingkan kemampuan regenerasi dari hewan-hewan yang berbeda, tampak ada beberapa hubungan antara kompleksitas dan kemampuannya untuk regenerasi. Daya regenerasi pada spons hampir sempurna. Pada manusia, regenerasi terbatas pada perbaikan organ dan jaringan tertentu. Dalam satu orgnisme, setidak-tidaknya di antara vertebrata, dengan meningkatnya umur juga tampak kemampuan regenerasi lenyap secara progresif. Ketika tungkai pertama-tama terlihat pada kecebong katak, bila lenyap, bagian-bagian tersebut dapat diregenerasi dengan mudah. Akan tetapi setelah metamorfosis, katak secara normal tidak dapat meregenerasi tungkai yang lenyap. Persamaan antara regenerasi dengan perkembangan embrio telah menyebabkan beberapa ahli embriologi mempelajari regenerasi dengan harapan mendapatkan suatu pengertian bagaimana perkembangan embrio terjadi. Penemuan polaritas telah memperlihatkan bahwa kekuatan organisasi tertentu, mungkin kimiawi bekerja pada regenerasi (Kimball, 1983: 417).

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Halifah pagarra, Asmawati, 2007. Penuntun Praktikum Reproduksi dan Embriologi. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Anonim, 2007. Regenerasi. http://www.Biologi.co.id. Diakses tanggal 25 desember 2007
Kimball, J.W. 1983. Biologi Edisi ke- 5 jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sudarwati, 1990. Struktur Hewan. Bandung : Jurusan Biologi FMIPA ITB
Sugianto, 1996. Perkembangan Hewan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Yatim, W. 1993. Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Tarsito


nah klo yang ini tenteang siklud reproduksi


Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan silus menstruasi, sedangkan siklus reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus.Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betin akan reseftif sebab di dalam ovarium sedang ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk implantasi untuk fase berikutnya disebut dengan satu siklus estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah 4-5 hari, pada babi, sapi dan kuda 21 hari dan pada marmut 15 hari .
Pada mamalia khususnya pada manusia siklus reproduksi yang melibatkan berbagai organ yaitu uterus, ovarium, mame yang berlangsung dalam suatu waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan oleh adanya pengaturan/koordinasi yang disebut dengan hormon (hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang langsung dialirkan ke dalam peredaran darah dan mempengaruhi organ target) Pada prkatikum ini kami akan melakukan pengamatan tentang apusan vagina pada mencit. Praktikum ini dilakukan agar mahasiswa dapat menentukan tahap siklus yang sedang diamati oleh mencit betina dewasa seksual.


Pada kebanyakan vertebrata dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan heawan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina, secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ-organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu oleh kehamilan
(Adnan, 2006 : 43).
Siklus estrus dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap isklus dapat ditentukan dengan melihat gambaran sitologi apusan vagina. Paad saat estrus, vagina memperlihatkan sel-sel epitel yang menanduk. Apusan vagina biasanya dibuat pada hewan hewan laboratorium, umpanya mencit dan tikus, sebelum hewan jantan dan betina disatukan, penyatuan sebaiknya dilakukan pada saat estrus awal. Pada saat estrus, vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak. Adanya sumbat vagina setelah penyatuan menandakan bahjwa kopulasi telah berlangsung, dan hari itu ditentukan sebagai hari kehamilan yang ke nol (Adnan, 2006 : 43)
Manivestasi psikologis berahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yakni estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Berahi yang jelas dapat ditimbulkan pemberian estrogen, bahkan dapat diberikan pada betina yang dioverektomi. Perlu diingat bahwa meskipun berahi disebabkan oleh ovarium, tetapi dengan pengertian bebas dari aktifitas ovarium. Pada betina yang intak, estrogen dari luar dapat menimbulkan berahi pada hampir tiap saat selama periode siklus estrus, oleh sebab itu maka berahi dapat dipisahkan sama sekali dari peristiwa yang terpenting pada ovarium, yakni ovulasi. Pada terapi dengan menggunkan estrogen, adanya faktor ini dalam praktek kedokteran hewan sering dilupakan
(Nalbandov, 1990 : 140).

Dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia dan banyak primata lain mampunyai siklus menstrtuasi (menstrual cycle), sementara mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous cycle). Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak (Campbell, 2004 : 141).

Menurut Syahrum (1994), perubahan-perubahan yang terjadi pada ovarium selama siklus estrus :
1. Selama tidak ada aktifitas seksual (diestrus) terlihat terlihat folikel kecil-kecil (folicle primer)
2. Sebelum estrus folikel_folikel ini akan menjkadi besar tetapi akhirnya hanya bsatu yang berisi ovum matang.
3. Folikel yangh berisi ovum matang ini akan pecah, telur keluar (ovulasi), saat disebut waktu estrus.
4. Kalau telur dibuahi, korpus luteum akan dipertahankan selama kehamilan dan siklus berhenti sampai bayi lahir dan selesai disusui.
5. Kalau telur tidak dibuahi, korpus luteum akan berdegenerasi, folikel baru akan tumbuh lagi, siklus diulangi.
Kemungkinan fertilisasi semakin besar diperbesar pada sejumlah spesies mamalia (tetapi pada manusia tidak), dengan menimbulkan birahi (estrus) pada betina dan hanya mau kawin ketika mendekati waktu ovulasi. Ovulasi ”birahi” dan perubahan lapisan-lapisan uterus dalam persiapan penerimaan telur yang dibuahi, dikontrol oleh mekanisme endokrin yang rumit (Vilee, 1989 : 73).

Pada manusia dan hewan primata lainnya mempunya siklus menstruasi, pada mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi, vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut dengan estrus (Anonim, 2006).
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus uterus jika tidak terjadi pembuahan, endometrium akan direabsorbsi oleh tubuh. Siklus estrus pada bebagai jenis hewan, berbeda-beda begitupun dengan jumlah siklus estrusnya dalam setahun berbeda pula (Rikacute, 2007)
Siklus estrus ini terjadi secara berkala. Bila dalam satu tahun hanya satu siklus disebut dengan monoestrus, misalnya menjangan satu kali dalam satu tahun . pada mamalia kecuali primata terjadi berhai pada yang betina disebut estrus {heat), pada saat itu binatang betina siap untuk kawin. Terlihat keadaan betina gelisah
(Syahrum, 1994 : 45)

Masa satu periode estrus ke estrus berikutnya disebut satu siklus estrus. Kalau terjadi perkawinan dan hamil, maka siklus estrus berhenti sampai bayi lahir. Bila tidak maka siklus jalan terus ( Syahrum, 1994 : 45)

Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktifitas yang tinggi ini di sebabkan oleh estrogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus. Siklus estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina (Adnan, 2007 : 45)


DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM
Anonim, 2007. Bahwa siklus estrus…. http://www. Madrasah-muallimaat.sch.id. Diakses tanggal 2 November 2007.

Campbell, N. A.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga.
Nalbandov, A. V, 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Jakarta : Universitas Indonesia.

Syahrum, H. M. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Rikacute, 2006. Pengaturan Fungsi Reproduksi Betina. http://rikacute.blogspot.com
Diakses 2 November 2007.

Vilee, Walker, Barnes, 1973. Zoologi Umum Jilid 1 Edisi Ke 4. Jakarta : Erlangga


1. Hubungan antara siklus vagina , siklus estrus, dan siklus ovarium dalam kaitannya dengan siklus estrus yaitu :
a. Siklus vagina :
Selama fase estrus atau birahi atau perkembngan folikel yang maksimal, serviks mensekresi lendir dalam jumlah terbesar dan tercair pada manusia terdapat pada saat ovulasi
b. Siklus uterus :
Selama fase estrus atau birahi ukuran atau histologi uterus tidak pernah
statis. Perubahan yng sangat nyata terjadi di endomterium dan kelenjarnya. Selama fase folikuler dari siklus estrus, kelenjar uterus sederhana dan lurus dan sedikit cabang. Penampilan uterus ini menandkn untuk stimulasi estrogen. Selama fase luteal, yakni saat proegesteron beraksi terhadap uterus, endometrium beratambah tebal secara mencolok, diameter dan panjang kelenjar meningkat secara cepat menjadi percabangan dan berkelok-kelok.
c. Siklus ovarium:
Puncak peristiwa siklus estrus adalah peristiwa pecahnya folikel dan terlepasnya ovum dari ovarium. Pada sapi 75 % mengalami ovulasi 12 sampai 14 jam setelah birahi berakhir, yang lain mengalami ovulasi lebih awal, yaitu 2,5 jam sebelum ovulasi berakhir. Pada wanita akan mengalami ovulasi kira-kira hari ke 14 dari siklus. Pada beberapa hewan, variasi saat ovulasi tidak jelas.

1. Hormon-hormon yang berperan dalam mengatur iklus reproduksi pada manusia dan pengaruhnya yaitu :
FSH berfungsi merangsang pematangan sel telur dan pembentukan hormon estrogen
Estrogen berfungsi untuk menghambat terbentuknya FSH dan membentuk LH.
LH berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi.

2. Perbedaan siklus menstruasi dengan siklus estrus yaitu :
Siklus estrus merupakan siklus reproduksi yang terjadi pada hewan non primata yang meliputi empat fase yaitu fase diestrus, proestrus, estrus, dan fase metesterus.
Sedangkan siklus menstruasi mempunyai siklus menstruasi yang berlangsung pada hewan primata yng dewasa seksual yang ditandai dengan adanya siklus haid.


gamett oh gamettt

Gamet merupakan produk akhir dari gametogenesis yang berlangsung di dalam gonad (testis atau ovarium). Gamet yang merupakan spermatogenesis disebut sperma, sedangkan gamet yang mereupakan produk dari oogenesis disebut ovum. Gamet berfungsi sebagai pembawa informasi genetic dari kedua parental kepada keturunannya. Gamet jantan disebut spermatozoid dan gamet betina yaitu sel telur. Spermatozoa diproduksi di dalam tubulus seminiferus. Spermatosit vertebrata terdiri atlas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang merupakan flagel yang panjang. Sperma hewan-hewan berbeda pula dalam ukuran bentuk dan mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies, perbedaannya terut ama terletak pada bagian kepalanya, yaitu dari bulat pipih sampai panjang lancip.
Pada pelaksanaan praktikum mengenai pengamatan sel kelamin, kami melakukan pengamatan terhadap sperma katak, mencit, merpati, dan manusia. Selain itu kami melakukan pula pengamatan pada sel telur ayam, telur mencit, telur katak, dan telur merpati. Disini kami mengamati mengamati struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan vertebrata, hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian system reproduksi yang berbeda.
B. Tujuan
1. Mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan
vertebrata.
2. Mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sel
reproduksi yang berbeda.
C. Manfaat
Setelah melakukan pengamatan ini, kita dapat mengetahui :
1. Struktur morfologi sperma dan sel telur hewan vertebrata.
2. Perbedaan sel kelamin dari bagian-bagian sel reproduksi yang berbeda.



Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis melalui proses yang disebut spermatogenesis. Sperma pertama kali dilepaskan pada saat pubertas, dan ini merupakan puncak dari serangkaian kejadian yang diawali kehidupan fetus. Spermatozoa pada spesies yang berbeda mempunyain ukuran yang bervariasi. Pada umumnya sperma terdiri atlas dua tipe yaitu sperma yang memiliki ekor dinamakan sperma tipe hematospermium sedangkan sperma yang tidak memiliki ekor dinamakan sperma tipe anemotispermium (Adnan, 2006; 76).
Sel telur diproduksi dalam ovarium. Perkembangan sel telur terjdi did a;lam folikel-folikel telur. Folikel-folikel yang matang mengalami oivulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke dalam oviduk. Seperti yang lainb, sel telur yang dilengkapi dengan membrane sel yang disebut plasmalema atau oolema untuk melundungi sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel dalam sel (Syahrum, 1994; 28-29).

Spermatogenesis atau reproduksi sel-sel dewasa adalah proses yng terus menerus dan prolifik pada jantan dewasa. Setiap ejakulasi laki-laki mengandung 100 sampai 650 juta sel sperma, dan seorang laki-laki dapat mengalami ejakulasi setiap hari dengan kemampuan untuk membuahi yang hanya berkurang sedikit (Campbell, 2004;160).
Struktur sperma sesuai dengan fungsinya untuk menembus sel telur. Bagian kepala berbentuk oval merupakan sel berinti besar dengan dengan sedikit sitoplasama, membran bagian ujung depan tredapat selubung tebal disebut akrosom yang mengandung enzim healuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus pelindung sel telur. Dibelakang kepala disebut badan sperma terdapat mitokondria berbentuk spiralm dan berukuran besra, berfungsi sebagai penyedia ATP/energi untuk pergerakan ekor yang berupa pergerakan flagel. Diantara sel-sel yang sedang mengalami spermatogenesis dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel sertoli yang berfungsi sebagai penyedia nutrien dan mengatur proses spermatogenium (Anonim, 2007; 1).
Seperti halnya pada testis maka struktur maka struktur ovarium sangat beranekaragam. Pada sejumlah hewan, terutama pada vertebrata, oogonium dan oosit dikelilingi oleh selapis folikeol. Pada manusia hal ini terjadi pada awal perkembangan fetus dan menjelang bulkan ketiga oogonium mulai berkembang menjadi oosit primer. Pada waktu seorang bayi dilahirkan, kedua obariumnya mengandung sekitar 400.000 oosit primer yang telah mencapai tahap prifase dalam pembelahan miosis. Oosit primer ini tetap berada dalam tahap profase sampai wanita tersebut mencapai kematangan seksual. Dalam tiap daur reproduksi bulanan, satu folikel atau lebih mulai membesar. Tidak semuanya menjadi matang karena banyak yang mengalami atrofi, tetapi biasanya satu folikel akan matang. Pada waktu ovulasi (15 sampai 45 tahun setelah mulai miosis) telur berada dalam tahap oosit sekunder. Pada sebagian besar vertebrata, untuk merangsang pembelahan meosis kedua dibutuhkan penetrasi sperma (Ville, 1973; 324).
Sesuai dengan artinya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang bersistem XY (umumnya pada vertebrata). Maka di dalam hal sperma jadi haplon pada proses miosis. Terbentuklah spermatid yang disepihak hanya mengandung salah satu kedua macam kromosom itu : X atau Y. Terbentuklah sperma yang hanya mengandung kromosom kelmin X, disingkat sperma X : lalu ada sperma yang mengandung kromosom Y, disingkat sperma Y (Yatim, 1994; 15-16).
Dalam testis yang masak terdapat lebih sedikit sel-sel sertoli daripada sel-sel germinal(sel-sel benih), dan yang pertama cenderung untuk terletak merata sekeliling tubula seminifera. Sel-sel sertoli cukup tahan terhadap banyak zat beracun, seperti sinar-x dan pengaruh proses tua. Ada dua tipe sel sertoli yang dapat terlihat , satu yang berwarna gelap dan yang lainnya yan g berwarna muda. Arti fungsional darin perbedaan ini tidak diketahui (Bevelender, 1988; 353).

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Adnan, Pagarra, A. Azis, 2006. Penuntun Praktikum Reproduksi dan Embriologi. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Anonim, 2007. Spermatogenesis. Error! Hyperlink reference not valid..
Bevelender, 1988. Dasar-Dasar Histologi. Erlangga. Jakarta.
Campbell, Kecce, Mizchell, 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Syahrum, Kamaliddin, Tjokronegoro, 1994. Reproduksi dan Embriologi FKUI. Jakarta
Ville, Warnes, Barnes, 1973. Zoologi Umum Jilid I Edisis Keenam. Erlangga. Jakarta.
Yatim, 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito. Bandung.




Read More......

Sistem Pencernaan




Tactus gastro-intestinalis (saluran pencernaan makanan) adalah suatu sistem dalam tubuh manusia yang memegang peranan penerima makanan dari luar, mencerna, dan menyerap bahan yang dapat diserap, serta mengeluarka sisa-sisa pencernaan. Yang diserap adalah bahan yang “dapat” diserap dan bukan bahan yang berguna untuk diserap. Sistem ini meliputi alat-alat tubuh mulai dari mjulut sampai lubang dubur atau anus. Secara anatomis yang dimaksud dengan rongga mulut (oral cavyti) adalah suatu rongga dikepala yang dibatasi oleh tulang rahang atas (maxillary bone) dan tulang rahang bawah(mandibular bone) serta tulang-tulang kecil lainnya (the paltine dan the hyoid bones) bersama otot-otot dan nganjaringan lain yang melekat pada tulang-tulang tersebut

Selain itu mulut memuat gigi untuk mengunyah makanan, dan lidah yang membantu untuk cita rasa dan menelan. Beberapa kelenjar atau sekelompok kelenjar menuangkan cairan pencerna penting ke dalam saluran pencernaan. Kelenjar ludah dengan (kelenjar salivari) dengan saluran yang masuk ke dalam mulut, kelenjar ludah perut atau pankreas dan hati (hepar) tersebar di dalam tubuh, yang terletak dibagian ventral rongga abdomen disebelah kanan di bawah diafragma. Hati secara luas dilindungi iga-iga. Fungsi hati bersangkutan dengan metabolisme tubuh, khususnya mengenai pengaruhnya atas makanan dan darah. Hati merupakan pabrik kimia terbesar dalam tubuh dalam hal bahwa iamenjadi “pengantara metabolisme”, artinya ia mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan yang disimpan di suatu tempat dalam tubuh, guna dibuat sesuai untuk pemakaiannya di dalam jaringan

Protein yang terdapat di dalam makanan kita dicernakan dalam lambung dan usus menjadi asam-asam amino yang diabsorbsikan dan dibawa oleh darah ke hati. Protein dalam sel-sel tubuh dibentuk dari asam amino. Protein dalam makanan diperlukan dalam menyediakan asam amino yang akan digunakan untuk memproduksi senyawa nitrogen yang lain untuk mengganti protein dalam jaringan yang mengalami proses penguraian dan untuk mengganti nitrogen yang telah dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urea. Oleh karena itu asam amino essensial yang harus diperoleh dari makanan
Read More......

barru map



Kabupaten Barru adalah salah satu Kabupaten yang berada pada pesisir barat propinsi Sulawesi Selatan, terletak diantara koordinat 4­­­­° 5’49” 47’35” lintang selatan dan 119° 49’35” lintang selatan dan 119° 35’00 - 119° 49’16” bujur timur dengan luas wilayah 1.174.72 km² berjarak ± 100 km sebelah utara kota Makassar, dan 50 km sebelah selatan kota Parepare dengan garis pantai sepanjang ± 78 km.

Kabupaten Barru berada pada jalur trans Sulawesi dan merupakan daerah lintas wisata antara kota Makassar dengan Kabupaten Tanah Toraja sebagai tujuan wisata serta berada dalam kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) Parepare jumlah penduduknya berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2002 sebesar 154.008 jiwa dengan kepadatan rata-rata 131/km². Pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Barru berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004 sebesar Rp 4.410.079,82. Perjalanan dari Makassar ke Kabupaten Barru dapat ditempuh selama 1,5 jam dan dari kota Parepare ke Kota Barru selama 45 menit.

Kabupaten Barru berbatasan dengan kota Parepare dan Kabupaten Sidrap disebelah utara, Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone disebelah Timur, Kabupaten Pangkep disebelah selatan dan selat Makassar disebelah barat

Add to Plusmo


Read More......

Barru again











Taman Laut Mallusetasi

Obyek wisata ini terletak di Kecamatan Mallusetasi, berjarak tempuh kurang lebih 32 Km dari ibukota Kabupaten, dan berada di antara tiga pulau yakni, Dutungeng, Batu Kalasi dan Bakki. Taman laut ini terbagi atas tiga wilayah, masing-masing dengan keunikannya. Wilayah pesisir/daratan meliputi dua pulau, yakni Dutungeng dan Bakki, dengan Vegetasi padat dan bersih, sangat cocok untuk aktifitas berjemur, sembari memandang panorama pantai, didukung oleh hamparan pasir putih untuk olahraga volley pantai.

Sementara untuk wilayah berikutnya berupa bawah permukaan laut pada site pulau Dutungen dapat dilakukan penyelaman terutama bagi pemula dengan kedalaman lebih dari 5 meter dan snorkling sesuai dengan kontur kedalaman sepanjang pesisir dengan kedalaman maksimal 5 meter. Keunikan pemandangan laut didukung oleh kondisi keragaman terumbu karang yang masih alami dan utuh dengan kedalaman antara 3 hingga 10 meter beserta ikan karang. Sementara site pulau Bakki dengan reef flat yang landai dengan kecerahan 100% dapat dilakukan aktivitas renang dan penyelaman. Beragam aktivitas dapat dilakukan pada taman laut ini yang didukung oleh keanekaragaman biota laut yang dihiasi oleh gugusan terumbu karang yang sangat indah.


Read More......

barru_qoe


Tempat wisata di Barru

Suku To Balo (Orang Belang)

di Barru terdapat juga suku To Balo (Orang Belang) merupakan bagian dari komunitas suku To Bentong yang menurut legenda hanya ada di kabupaten Barru.Suku ini berdiam di Desa Bulo- Bulo Kecamatan Pujananting , bahasa yang digunakan adalan bahasa Bentong, keunikan dari suku ini jumlahnya tidak lebih dari 9 orang.

Read More......